Minggu, 28 Mei 2017

hari buku nasional : Mari membaca

17 Mei. Mungkin banyak yang tidak tahu hari besar itu. Ya, hari itu memang tidak sepopuler hari-hari besar lain seperti Hari Kartini yang mampu menyedot orang untuk mengucap ‘Selamat Hari Kartini’ meskipun ia tidak tahu esensi Hari Kartini itu bahkan tak tahu siapa itu Kartini sebenarnya. Hari Buku Nasional memang tak sepopuler itu bagi orang banyak. Tapi tidak dengan ku. Aku selalu mengingat hari ini. Oleh karenanyalah aku membuat tulisan ini yang semoga dapat menarik satu atau dua lagi pecandu buku.
Bagiku membaca buku sudah selayaknya menjadi kebutuhan pokok apalagi jika status anda adalah seorang yang terpelajar. Kenapa ? pertanyaan serupa juga ku lontarkan dengan angkuhnya ketika aku belum benar-benar mengenal yang namanya buku. Tetapi setelah proses pencarian yang panjang, aku akhirnya mengerti mengapa aku harus membaca buku.
Buku adalah sumber wawasan dan pengetahuan dari berbagai perspektif dan bermacam-macam pola fikir yang semua memiliki latar belakangnya sendiri. Dengan buku kita bisa menumpas kedangkalan dalam berfikir, meningkatkan daya kritis, menambah kapasitas kita dalam berfikir dan memberi solusi dan masih banyak lagi manfaat yang bisa didapatkan dari benda bernama buku.
Aku pernah mendengar satu ungkapan yang kira-kira berbunyi “ Untuk menghancurkan suatu Bangsa, buat saja warganya berhenti membaca”. Suatu ungkapan yang begitu menakutkan jika dikorelasikan dengan kondisi “krisis minat baca” yang tengah melanda Warga Indonesia saat ini. Survei dari UNESCO menyatakan bahwa minat baca masyarakat Indonesia hanya 0,001% saja. Itu berarti dari 100.000 orang, hanya 1orang yang gemar membaca. Betapa mirisnya melihat kondisi bangsa sebesar dan sekaya Indonesia memiliki minat baca yang begitu rendahnya. Dan yang lebih memprihatinkan lagi, minat baca di kalangan kita pelajar dan mahasiswa pun ikut-ikutan rendah. Padahal kalangan  kitalah yang akan menahkodai negara ini sepuluh atau dua puluh tahun mendatang. Pertanyaannya, mau kita bawa kemana negara ini nanti jika hal-hal yang demikian terus berlanjut tanpa ada perhatian dan kesadaran kolektif untuk merubahnya? Mau sampai kapan kita betah dalam kungkungan ketidaktahuan akut ini ?
Minat membaca yang rendah di kalangan pelajar dan mahasiswa ini tercermin ketika mahasiswa tidak memiliki kemampuan lagi untuk sekadar mengkritisi hal-hal yang salah yang terjadi di lingkungan sosial maupun lingkungan politik negara ini. Padahal jargon seperti “Mahasiswa Agent of Change, Agent Of Control dan bla.... bla... bla” sudah merajalela sejak kita masuk ke  bangku kuliah. Tapi nyatanya ? masih banyak yang gagal paham tentang istilah tersebut. Mahasiswa hanya bisa Tajam Kritik tapi Tumpul Solusi.
Entah siapa yang bisa disalahkan atas rendahnya minat baca di Indonesia ini. Tetapi satu yang pasti, pemerintah harus ambil andil yang lebih masif lagi dalam peningkatan minat baca ini. Tak cukup lagi dengan hanya sebagai penyedia sarana prasarana membaca. Di tengah krisis minat baca ini seharusnya pemerintah melalui Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan bisa mengambil kebijakan yang dapat menjadikan membaca sebagai budaya yang kuat dalam kehidupan para pelajar sedari dini. Mungkin ketimbang sibuk dengan ‘reformasi’ kurikulum yang terus menerus tanpa kejelasan hasil, atau sibuk mengadakan Ujian Sebagai Syarat kelulusan, yang secara empirik tak membuahkan hasil yang memuaskan, pemerintah bisa membuat program wajib membaca di kalangan pelajar.

Tak cukup hanya pemerintah yang berbuat. Kita mahasiswa pun harus dengan sendiri menumbuhkan kesadaran kita untuk mulai menyisihkan waktu setidaknya satu sampai dua jam setiap harinya untuk membaca buku. Saya  selalu percaya, setiap buku yang saya baca akan selalu membuat saya merasa ‘kerdil’ dan merasa tahu terlalu sedikit. Itulah yang menjadi candu bagi saya untuk tetap membaca buku. Intinya adalah bagaimana kita para mahasiswa, kaum intelektual, membangun kesadaran kolektif uuntuk mulai membaca lalu setelah itu membangun kesadaran di sekitar kita.

Secara garis historisnya, perubahan di negara ini  dibawa oleh kaum-kaum intelektual. Mari kita perbanyak ilmu, pengetahuan dan wawasan kita dengan membaca buku. Karena jika kita kaum  intelektualpun tidak banyak tahu, siapa lagi yang mengawal ‘bajingan-bajingan’ di atas sana? Siapa lagi yang mempertanggungjawabkan nasib 250 juta penduduk Indonesia ? tetaplah berproses.

Selasa, 02 Mei 2017

SAJAK: PAGI SEBELUM HARI INI


PAGI SEBELUM HARI INI

pagi sebelum hari ini
aku jatuh semakin dalam
masuk ke jurang kekaguman
yang teramat jarang ku rasakan
kepadanya.........
yang pagi sebelum hari ini berjalan bersamaku
berjalan di antara kemegahan-kemegahan yang memabukkan
ahh.... wanita itu
mengapa ia ?
bodohkah aku ?
ia terlalu tinggi untuk ku gapai
jauh lebih dewasa ketimbang anak-anak imaji
sepertiku..........
tapi....
biarlah mata ini berlabuh dan terus memandanginya
telinga ini mencari dan mendengar lagunya
toh sebentar lagi rasa ini juga akan menemui ajalnya



atau mungkin tidak?!

Medan, 2 Mei 2017

31HariMenulis