17 Mei. Mungkin
banyak yang tidak tahu hari besar itu. Ya, hari itu memang tidak sepopuler
hari-hari besar lain seperti Hari Kartini yang mampu menyedot orang untuk
mengucap ‘Selamat Hari Kartini’ meskipun ia tidak tahu esensi Hari Kartini itu
bahkan tak tahu siapa itu Kartini sebenarnya. Hari Buku Nasional memang tak
sepopuler itu bagi orang banyak. Tapi tidak dengan ku. Aku selalu mengingat
hari ini. Oleh karenanyalah aku membuat tulisan ini yang semoga dapat menarik
satu atau dua lagi pecandu buku.
Bagiku membaca
buku sudah selayaknya menjadi kebutuhan pokok apalagi jika status anda adalah
seorang yang terpelajar. Kenapa ? pertanyaan serupa juga ku lontarkan dengan
angkuhnya ketika aku belum benar-benar mengenal yang namanya buku. Tetapi setelah
proses pencarian yang panjang, aku akhirnya mengerti mengapa aku harus membaca
buku.
Buku adalah
sumber wawasan dan pengetahuan dari berbagai perspektif dan bermacam-macam pola
fikir yang semua memiliki latar belakangnya sendiri. Dengan buku kita bisa
menumpas kedangkalan dalam berfikir, meningkatkan daya kritis, menambah
kapasitas kita dalam berfikir dan memberi solusi dan masih banyak lagi manfaat
yang bisa didapatkan dari benda bernama buku.
Aku pernah
mendengar satu ungkapan yang kira-kira berbunyi “ Untuk menghancurkan suatu
Bangsa, buat saja warganya berhenti membaca”. Suatu ungkapan yang begitu
menakutkan jika dikorelasikan dengan kondisi “krisis minat baca” yang tengah
melanda Warga Indonesia saat ini. Survei dari UNESCO menyatakan bahwa minat baca
masyarakat Indonesia hanya 0,001% saja. Itu berarti dari 100.000 orang, hanya
1orang yang gemar membaca. Betapa mirisnya melihat kondisi bangsa sebesar dan
sekaya Indonesia memiliki minat baca yang begitu rendahnya. Dan yang lebih
memprihatinkan lagi, minat baca di kalangan kita pelajar dan mahasiswa pun
ikut-ikutan rendah. Padahal kalangan
kitalah yang akan menahkodai negara ini sepuluh atau dua puluh tahun
mendatang. Pertanyaannya, mau kita bawa kemana negara ini nanti jika hal-hal
yang demikian terus berlanjut tanpa ada perhatian dan kesadaran kolektif untuk
merubahnya? Mau sampai kapan kita betah dalam kungkungan ketidaktahuan akut ini
?
Minat membaca
yang rendah di kalangan pelajar dan mahasiswa ini tercermin ketika mahasiswa
tidak memiliki kemampuan lagi untuk sekadar mengkritisi hal-hal yang salah yang
terjadi di lingkungan sosial maupun lingkungan politik negara ini. Padahal
jargon seperti “Mahasiswa Agent of Change, Agent Of Control dan bla.... bla...
bla” sudah merajalela sejak kita masuk ke
bangku kuliah. Tapi nyatanya ? masih banyak yang gagal paham tentang
istilah tersebut. Mahasiswa hanya bisa Tajam Kritik tapi Tumpul Solusi.
Entah siapa
yang bisa disalahkan atas rendahnya minat baca di Indonesia ini. Tetapi satu
yang pasti, pemerintah harus ambil andil yang lebih masif lagi dalam
peningkatan minat baca ini. Tak cukup lagi dengan hanya sebagai penyedia sarana
prasarana membaca. Di tengah krisis minat baca ini seharusnya pemerintah
melalui Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan bisa mengambil kebijakan yang
dapat menjadikan membaca sebagai budaya yang kuat dalam kehidupan para pelajar
sedari dini. Mungkin ketimbang sibuk dengan ‘reformasi’ kurikulum yang terus
menerus tanpa kejelasan hasil, atau sibuk mengadakan Ujian Sebagai Syarat
kelulusan, yang secara empirik tak membuahkan hasil yang memuaskan, pemerintah
bisa membuat program wajib membaca di kalangan pelajar.
Tak cukup
hanya pemerintah yang berbuat. Kita mahasiswa pun harus dengan sendiri
menumbuhkan kesadaran kita untuk mulai menyisihkan waktu setidaknya satu sampai
dua jam setiap harinya untuk membaca buku. Saya selalu percaya, setiap buku yang saya baca
akan selalu membuat saya merasa ‘kerdil’ dan merasa tahu terlalu sedikit. Itulah
yang menjadi candu bagi saya untuk tetap membaca buku. Intinya adalah bagaimana
kita para mahasiswa, kaum intelektual, membangun kesadaran kolektif uuntuk
mulai membaca lalu setelah itu membangun kesadaran di sekitar kita.
Secara garis
historisnya, perubahan di negara ini dibawa oleh kaum-kaum intelektual. Mari kita
perbanyak ilmu, pengetahuan dan wawasan kita dengan membaca buku. Karena jika
kita kaum intelektualpun tidak banyak
tahu, siapa lagi yang mengawal ‘bajingan-bajingan’ di atas sana? Siapa lagi
yang mempertanggungjawabkan nasib 250 juta penduduk Indonesia ? tetaplah
berproses.